Migunani Tumraping Liyan

Mas Untung, beberapa hari ini tak banyak bicara. Kabar sedih datang. Satu kawannya meninggal karena mendadak serangan jantung, satu kawannya meninggal karena kanker. Satu kawannya lagi dikabarkan tergolek di tempat tidur saja, belum bisa bergerak leluasa, belum bisa jalan, katanya terkena stroke.

Ia duduk di teras rumah, menyesap secangkir kopi.
Dan, satu kebiasaan yang mungkin sudah langka, membaca koran
Ia masih langganan Koran Kompas edisi cetak

“Konco-koncoku, wis podho mati,” katanya menggumam pelan.

Sementara itu, ia melepas pandang ke seberang. Bejo, “Asisten Pribadinya” juga sedang ngopi bareng teman-temannya. Ia, tampak gembira, sesekali tertawa terbahak-bahak. Lossssss. Serasa tanpa ada beban hidupnya.

Mas Untung kadang merasa “iri” juga melihat pemandangan demikian. Ia jadi memikirkan kondisi dirinya. Ia merasa, sudah lama sekali tak tertawa terpingkal-pingkal semacam ini. Ia menduga, tongkrongan Bejo dan kawan-kawannya terasa lebih hidup dengan tongkrongan dirinya bersama kawan-kawanya.

Ketika berkumpul dengan kawan-kawannya. Rata-rata kawan-kawannya sudah mapan. Tapi, obrolan kadang terasa kaku. Lebih banyak obrolan yang lumayan serius. Tentu paling banyak obrolan tentang bisnis, peluang cuan dan omset semata. Diselingin pamer pencapaian tipis-tipis. Memang, dari obrloan semacam itu menghasilkan suatu keputusan atau deal-deal menarik.

Mungkin beda dengan tongkrongan Bejo, ia riang gembira. Tapi bisa jadi dan sangat mungkin tak ada sesuatu setelahnya. Habis nongkrong, bubar, selesai begitu saja. Besoknya lagi, mengulangi hal yang sama. Suasana yang akrab, saling melempar joke yang mungkin receh, tapi berhasil membuat suasana tongkrongan hidup, mengundang tawa, merayakan gembira.

Mas Untung, juga kembali merenung, apakah sejauh ini hidupnya berguna? Ia memang punya banyak karyawan, bisa memberikan gaji kepada mereka. Tapi, pikirannya malah jadi berontak. Ia merasa, ia memang menggaji mereka. Tapi, kalau dipikir-pikir, ternyata, merekalah yang selama ini menghidupi diri dan keluarganya. Ia membayangkan kalau para karyawan dan pegawainya itu tak ada, toh ia tak bisa berbuat apa-apa.

Ia kembali merenung dan bertanya, apakah hidupnya bermanfaat? Ini pertanyaan eksistensialis. Orang Jawa mengenal istilah, migunani tumraping Liyan, bermanfaat bagi orang lain. Apakah dirinya sudah berikan manfaat kepada orang lain, atau justru dirinya lebih banyak mendapatkan manfaat dari orang lain.

Pikirannya berkecamuk, Ia merasa belum berikan apa-apa. Sementara, kabar kematian kawan-kawannya datang silih berganti. Dirinya, tentu hanya tinggal menunggu waktu saja.

Dalam hati, ia merasa kalah. Ia kembali berguman

“Jo, uripmu sakjane malah luwih migunani ketimbang aku.”

(Yons Achmad, Kolumnis tinggal di Depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these