Para dokter “berguguran”. Ada yang dipecat dari rumah sakit tempatnya bekerja, ada yang dipaksa mengundurkan diri. Kenapa? Karena satu dua kalimat yang dinilai kurang empati kepada pasien. Ya, bukan pasiennya memang. Tapi, pasien yang curhat atas pelayanan rumah sakit. Cerita menunggu 8 jam untuk bisa dapat ruangan. Bukan solusi yang didapatkan, tapi malah mendapatkan ujaran tak simpatik, tak empatik dari para dokter itu.
Mas Untung sedang tak enak badan. Selepas subuh, ia di rumah saja. Menonton televisi. Melihat kasus para dokter yang tersandung kode etik itu. Ia tak mau menghakimi para dokter itu. Ia juga tak mau ikut-ikutan berikan komentar atas kasus pasien curhat yang akhirnya meninggal itu.
Hanya, tiba-tiba ia ingat kejadian itu. Saat ibunya yang terkena kangker dulu dirawat dan akhirnya meninggal di usia yang masih cukup muda. Umur sekira 40-an tahun. Dulu, di bangsal rumah sakit ibunya pernah bilang begini:
“Le, mbok aku tukokne daster ijo”
“Nak, belikanlah aku daster hijau.”
Mas Untung hanya bisa menatap mata ibunya. Ia mendapatkan dan merasakan firasat. Konon, warna hijau adalah “Warna Surga”. Entah itu benar atau tidak, itu sebuah firasat sebentar lagi ibunya bakal meninggal dan pergi ke surgaNya.
Mas Untung lalu minta izin, bergegas mencari daster warna hijau yang diinginkan itu di pusat perbelanjaan sekitar RS Fatmawati. Berhasil. Lalu memakaikannya ke ibunya. Benar saja, tak beberapa lama, ibunya meninggal. Ia pasrah, tak menuntut apa-apa ke dokter atau rumah sakit tempat ibunya dirawat.
“Pancen wis wayahe,” kata sesepuh dalam keluarganya.
Ia, tentu sangat sedih atas kepergian ibunya. Tapi, di sisi lain, sang dokter, para perawat dan nakes lain pasti juga merasa hal yang serupa. Maka, ia juga memilih tidak protes. Tetap menaruh rasa hormat karena sudah berjuang secara maksimal walau belum sesuai harapan.
Tak sadar, Mas Untung, dokter dan para perawat itu sama-sama menempatkan diri. Tetap berinteraksi dengan penuh rasa hormat dan pengertian masing-masing.
Orang Jawa, mengenal kisah demikian dengan istilah “Tepa Selira”. Artinya, “tepa” yang berarti menepuk atau merasakan, dan “selira” yang berarti hati atau perasaan. Secara filosofi, tepa selira adalah kemampuan untuk merasakan atau memahami perasaan orang lain dan menempatkan diri dalam posisi orang tersebut. Begitulah kira-kira.
Lalu, saat lamunan itu belum sirna, seseorang datang, “Tehnya Mas.” Ia menoleh ke istrinya yang seorang perawat itu, lalu tersenyum dan ucapkan kalimat singkat.
“Suwun Dek.”
Sementara itu, Mas Untung dan mungkin banyak orang lain, masih terus menunggu gebrakan, kekonyolan dan entah kisah menggelikan apa lagi yang bakal terjadi di negeri ini. []
(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)