Ngelmu Titen

Bapak Mas Untung seorang petani Jawa. Sejak muda sampai usia senja, tak ada pekerjaan lain. Satu-satunya aktivitas ya bertani. Sebagai seorang petani, sudah tentu punya pakem-pakem tersendiri dalam menjalani profesinya.

Satu hal yang menarik adalah mengamati pola. Orang Jawa mengenalnya dengan “Ngelmu Titen”. Memang, ilmu atau pengetahuan tradisional Jawa ini didapat dari kebiasaan mengamati (titeni) tanda-tanda alam, perilaku manusia, atau kejadian berulang secara cermat. Pengetahuan ini murni lahir dari pengalaman empiris turun-temurun.

Umpamanya, dalam mengamati musim. Pada saat muncul Garengpung. Ia serangga yang mirip lalat besar. Biasanya Garengpung bernyanyi di pagi menjelang siang. Sambil hinggap di batang pohon yang besar, ia bersuara keras dengan menggesekkan kedua sayapnya. Uniknya, Garengpung hanya muncul ketika musim hujan telah berakhir dan musim kemarau tiba. Tak mengherankan Garengpung dianggap sebagai penanda datangnya musim kemarau.

Bagi masyarakat berkultur pertanian, ngelmu titen juga digunakan untuk memahami kapan petani dapat beraktivitas mulai dari menebar benih padi hingga memanennya. Mereka mempunyai sistem penanggalan khusus pertanian yang disebut sebagai pranata mangsa (ketentuan musim). Nah, keluarnya suara Garengpung ini termasuk mangsa kasanga.

Sayangnya garengpung akhir-akhir ini menjadi incaran orang-orang untuk diburu, dia dijadikan bahan santapan. Bahkan ada yang dengan jelas-jelas mengiklankan sebagai kuliner enak. Dibilangnya lebih enak dari belalang. Alhasil, orang-orang belakangan yang tak begitu menaruh perhatian pada tanda-tanda demikian, sangat bisa menggerus atau menghilangkan “Ngelmu Titen” ini tanpa disadarinya.

Terlepas dari semua itu, Mas Untung kembali ingat betul pesan bapaknya suatu ketika.

“Urip iku mider, Le, yen kowe ngerti mangsane lan polane, bakal slamet.”

“Hdup itu berulang Nak, kalau kamu tahu polanya bakal selamat”

Betul juga. Itu sebabnya, dalam memahami hidup, terutama memutuskan sesuatu, Mas Untung terus mencoba mengamalkan apa yang telah diwejangkan bapaknya itu.

Tidak terburu-buru memutuskan perkara hanya dari satu sumber informasi atau kasus saja. Tapi, coba berefleksi, merenungi peristiwa-peristiwa kehidupan yang berulang-ulang.

Dari situ, setidaknya, dirinya bisa memperoleh pencerahan tentang “Pola Kehidupan” itu sebagai salah satu dasar memutuskan sesuatu.

“Ben slamet,” ‘Biar selamat,” gumam Mas Untung pelan.

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these