Menang Tanpa Ngasorake

Sebagai orang perantauan di Jakarta, Mas Untung sudah merasakan bagaimana kerasnya kehidupan. Pernah hidup di pemukiman padat penduduk. Kadang tiba-tiba janjir datang, kadang tiba-tiba ada kebakaran hebat, kadang ada tawuran antar pemuda, kadang ada bentrok antar warga. Tak terhindarkan, kadang korban mati terkapar di tengah jalan. Itu pemandangan biasa baginya.

Hidup di pemukiman padat misalnya, beragam orang dari berbagai daerah membaur. Bekerja mulai dari pedagang, kuli bagunan, penagih utang, sales, OB, penyapu jalan. Semuanya itu pernah menjadi tetangganya.

Bagaimana dengan premanisme dan kekerasan verbal dan fisik? Itu juga pernah dirasakannya.

Saat itu dirinya baru awal membuka kedai kulinernya. Di Seberang sebuah kampus swasta Jakarta. Sosok agak tambun, sangar, berkulit hitam itu datang

“Iuran cepet”

Mas Untung terus terang kaget

“Kita sampun mbayar lapak setahun,” katanya

“Bukan, ini uang harian, cepat”

Tak menyangka dirinya harus membayar uang harian yang lumayan itu. Padahal, sebenarnya lapaknya juga illegal. Lahan kepunyaan pemprov DKI, ruang hijau, tapi entah bagaimana, menjadi tempat jualan.

Semua tahu itu keliru, tapi Mas Untung, diawal merintis mulai saja dengan lapak yang tersedia. Uang lapak sebenarnya untuk siapa? Mas Untung tak pernah tahu. Yang dia tahu, dia sewa lapak sama “Ormas” setempat.

Tak selalu mulus, pernah hampir semua lapak hancur, diserang oleh “Ormas Sebelah”. Tapi, setelahnya damai. Lapak diperbaiki, bisa berdiri kembali.

Bagi Mas Untung, sebenarnya kalau main otot-ototan bisa juga. Orang Jawa begitu banyak diperantauan, bisa dikerahkan. Tapi, tidak begitu cara bekerjanya.

Layaknya orang Jawa, ada filosofi “Menang Tanpa Ngasorake” Menang tanpa merendahkan, menghancurkan lawan. Bersama teman seperantauan lain, dari beragam profesi, dirinya terus saja menyiasati kondisi. Anti kekerasan, memilih hindari konflik, sambil terus fokus asah kemampuan dan lejitkan sampai titik puncak. Mereka, mengalah, bukan berarti kalah.

Orang-orang yang bisanya main otot, seperti biasa, mungkin hari ini beruntung. Merasa menang, tapi besok bisa hancur lebur, bahkan mati terkapar dijalanan, diserang kelompok lain. Sementara, orang Jawa, memilih fokus untuk maju mengurus keberhasilan diri, walau kadang begitu pelan-pelan. Tapi prinsipnya, bisa menang, tidak perlu dengan mengalahkan atau menghancurkan lawan. Itulah jalan ketenangan sekaligus kebahagiaan ala orang Jawa. []

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok).

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these