Kabar baru. Nanik Deyang mundur jadi jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Kabar itu cukup menghebohkan jagat media sosial. Banyak yang kaget, menduga-duga, hingga muncul beragam analisis “liar” ala netizen.
Kabar itu juga didengar oleh Mas Untung dan “Asisten Pribadinya”, Bejo.
“Gegeran niki Mas,” kata Bejo memberanikan diri awali pembicaraan
“Pie Jo?”
“Kepala BGN mundur Mas”
“Oh kui, ben wae ra usah digagas ndak marai mumet”
“Pripun miturut njenangan Mas?”
“Maju tatu, mundur ajur Jo”
“Wah maksute pripun”
“Yo kui, pilihan angel kui”
Maju tatu mundur ajur (maju kena, mundur kena). Ajaran Kebajikan ala orang Jawa yang menggambarkan dilema ekstrem di mana seseorang menghadapi situasi serba salah, serba sulit. Secara harfiah, tatu berarti luka, sedangkan ajur berarti hancur lebur.
Secara filosofis, ungkapan ini bermakna bahwa baik maju maupun mundur sama-sama akan mendatangkan celaka, kehancuran, atau penderitaan yang fatal. Filosofi ini sering digunakan untuk menggambarkan kondisi genting atau pilihan sulit dalam perjuangan hidup yang tidak memiliki jalan keluar yang aman. Tapi, pilihan harus diambil. Tentu yang paling ringan risikonya.
“Mundur niku luwih aman nggih Mas?”
“Iyo, daripada dadi tersangka, yo wis mundur wae he he”
“Berarti Mbak Nanik dereng siap ngambil risiko nggih Mas”
“Yo, ora wani kae, milih mundur kelangan jabatan ra popo”
“Nek Mas Daryono sing ngganti menurut njenengan pripun?”
“Nek aku cocok Jo, apik” kata Mas Untung sambil tersenyum.
(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)