Sebagai orang Jawa, Mas Untung memang sering disalah pahami. Banyak yang mengira kalau orang Jawa, khususnya Jawa Tengah itu “Polos”. Padahal, itu mitos belaka. Umpamanya, “Orang-Orang Jakarta” kadung percaya dengan mitos ini. Hasilnya, banyak yang coba “Ngerjain” orang Jawa karena dinilai “Polos”.
Apakah orang Jawa, khususnya orang Magelang tak mengerti orang yang “ngerjain” mereka? Paham. Selalu paham. Tapi, mereka selalu punya cara untuk menghadapi semuanya ini. Katakan saja, orang Jawa akan memakai tiga pendekatan untuk menghadapi orang-orang yang suka “Ngerjain” ini.
“Sing waras ngalah.” Mas Untung ingat betul ajaran demikian.
Ajaran warisan sesepuh. Ajaran yang sudah mandarah daging dalam dirinya. Singkatnya, tidak mau “ribut”. Mengalah saja. Satu yang pasti, mengalah bukan berarti kalah. Tapi, menahan diri untuk tidak konflik.
Tapi, bagaimana kalau masih saja “Sering Dikerjain.”
“Yo ngalih wae.” Alias pindah saja
Artinya, bisa pindah secara fisik, misalnya pindah rumah kalau ada tetangga yang “rese”. Beberapa kali “ngerjain” tidak tobat-tobat juga. Banyak orang Jawa Magelangan yang memilih untuk pindah rumah. Berat memang, tapi demi kebaikan, itu dilakukan. Baik terpaksa maupun tidak.
Bisa juga, pindah secara “non fisik”. Mengindarkan diri dari berurusan dengan orang-orang semacam ini. Membatasi komunikasi. Tidak berkomentar atas apapun. Sampai pada ekstrimnya, memilih untuk diam. Kadang, bagi orang Jawa, “Diam” bisa berarti puncak kemarahan.
Bagaimana kalau sudah “Ngalah” dan “Ngalih” tapi tetap saja diusilin, “Dikerjain”?
Tak ada kata lain. Ya, “Ngamuk”
Ini adalah jalan terakhir atau titik didih ketika berbagai upaya damai dan menghindar sudah dilakukan, namun hak atau keselamatan tetap dilanggar. Dalam budaya Jawa, ketika batas kesabaran terlampaui, seseorang berhak melawan atau marah secara total untuk membela kebenaran.
“Awake dewe sakjane yo iso ngamuk Jo, ning yo ora usah, ngamuk entuk opo, bener ora Jo?” kata Mas Untung pada Bejo suatu ketika.
Itu sebabnya, keluarga besar Mas Untung ya tampak baik-baik saja sejauh ini. Kelihatannya begitu. Dan, semoga juga benar-benar begitu. []
(Kolumnis, tinggal di Depok)