Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono

Suasana “Warung Jowo” akhir pekan cukup lumayan. Para pengunjung tampak sedang menyantap makanan dengan riang. Sementara, sebagian masih mengantre mengambil makanan secara prasmanan.

Mas Untung sebatas memantau dari kejauhan. Wisata kulineran yang dirintisnya, bukan dari nol bahkan dari minus itu kini lumayan membuahkan hasil. Ia tak mau sesumbar dengan mengatakan sudah ikut andil entaskan pengangguran alias sudah bisa serap tenaga kerja lewat para karyawannya.

Ia juga, tak sesumbar sudah menghidupi karyawan dan keluarganya. Bukan. Justru, para karyawanlah yang sudah menghidupi dirinya. Sambil memantau, sesekali melongok Tiktok. Sekadar melihat-lihat hiburan receh atau berita-beria di luar nalar yang sering terjadi di negerinya.

Tak sengaja. Ia menonton

Seorang “Bang Jago” mengendarai motor Ninja yang tiba-tiba, tanpa sebab menonjok pemotor lain. Seorang pengendara mobil Ayla menghantam bagian depan mobil dibelakangnya setelah merasa lama betul tak dikasih jalan. Tak cukup itu, spion mobil pun dipatahkannya. Sebuah pemandangan “Sok Jagoan”. Tapi, mendadak jadi “Ayam Sayur” setelah ditangkap polisi.

Bejo, “aspri”-nya tiba-tiba datang menyapa

“Wah rame banget nggih Mas”

“Disyukuri wae Jo”

Kali ini tak ada obrolan berarti. Hanya saling sapa sekadar basa-basi pergaulan layaknya orang Jawa kebanyakan.

Mas Untung cuman merenung. Semakin sering saja melihat dan menonton berita, orang sering semena-mena (mentang-mentang) pada orang lain. Alih-alih menghakimi, ia mencoba melongok ke dalam diri. Ingat petuah bapaknya, “Ngono yo ngono ning ojo ngono”. Begitu ya begitu tapi jangan begitu.

Mentang-mentang berkuasa, seenaknya saja, jarang berikan akses. ahai. Mentang-mentang kaya, memperlakukan orang semena-mena, jarang pula bersedekah. Mentang-mentang bisnis lagi berjaya, aneh-aneh kelakuannya, alih-alih hidup tetap sederhana.

“Ngono ya ngono, ning ojo ngono” berarti “begitu ya begitu, tetapi jangan begitu”. Hari itu, Mas Untung mengingat betul petuah bapaknya soal hal ini. Ya, bagaimana mengajarkan kita untuk hidup seimbang, bersikap wajar, dan tidak berlebihan atau melewati batas dalam melakukan segala sesuatu. []

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these