Amenangi Zaman Edan

Di selasar “Warung Jowo”, Bejo sang sopir sekaligus orang kepercayaan Mas Untung terlihat duduk menunduk, tampak serius menonton sesuatu sambil senyum senyum sendiri.

“Weh nonton opo Jo, kok ngguya ngguyu dewe”

‘Nganu niki, nonton pengajian Gus Iqdam.”

Walah betul, pengajian Gus Iqdam ini memang sering tampilkan tanya jawab dengan jamaahnya. Aneh-aneh dan lucu kelakuannya yang sering mengundang tawa.

“Wih apik kui”

“Nggih, nek nonton berita malah mumet kulo Mas” Bejo tersenyum.

“Ngopi sik kene”

“Nggih.” Bejo memasukan HP ke kantong celananya. Lalu sedikit terlibat obrolan dengan Mas Untung

“Pancen rodo ruwet negoro iki Jo. Awak dewe babak belur nggolek rezeki, sing nang kono malah enak-enak korupsi, sing wingi kui meh setengah triliyun kui duwit karo emase sing disita”

“Zaman edan nopo nggih Mas”

“Mungkin Jo”

Mas untung tiba-tiba ingat salah satu petikan syair Serat Kalatidha, ramalan Zaman Edan, pujangga Jawa Ronggowarsito

Amenangi jaman edan
ewuh aya ing pambudi
Melu edan nora tahan
yen tan milu anglakoni
boya kaduman melik
kaliren wakasanipun.
Dilalah kersa Allah
begja-begjaning kang lali
luwih begja kang eling lan waspada.

Menghadapi zaman edan
keadaan menjadi serba sulit
turut serta edan tidak tahan
apabila tidak turut serta melakukan
tidak mendapatkan bagian
akhirnya menderita kelaparan.
Sudah kehendak Tuhan Allah
betapun bahagianya orang yang lupa
lebih berbahagia mereka yang sadar dan waspada.

Awalnya, mau ngobrol soal ini buat isi waktu, tapi diurungkannya. Takut panjang ceritanya.

“Jo, aku tak pit-pitan sing, mengko Jumat berkah bagi-bagi wae karo ibuk yo”

“Nggih Mas, ngatos-atos”

(Yons Achmad. Kolumnis. Tinggal di Depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these