Scripta Manent, Verba Volant
(Yang tertulis mengabadi, yang terucap berlalu bersama angin)
Saat saya berumur 20-an tahun, selepas menyesap secangkir teh di kafe internet kampus, saya berpikir, apa kira-kira profesi atau pekerjaan yang bisa dilakukan sepanjang hayat, tanpa mengenal kata pensiun? Jawaban menuju kepada satu profesi. Tak lain tak bukan, menjadi seorang penulis. Itulah yang kemudian total saya tekuni hingga kini.
Saya memulai karier menjadi penulis dengan menulis beragam artikel di media massa. Dulu, koran-koran yang menjadi “sasaran” tentu saja beragam. Kompas, Republika, Media Indonesia, Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat dll. Honor menulis di koran-koran itu sekira Rp. 250.000 sampai Rp. 1.000.000. Semasa kuliah, saya sempat merasakan era kejayaan ini. Menulis, mendapat honor untuk kebutuhan hidup dan bayar kuliah.
Selepas kuliah, sekira tahun 2007-2012, memasuki era kejayaan blogger. Profesi blogger sendiri, seseorang yang membuat, mengelola, dan menulis konten secara rutin di sebuah situs web yang disebut blog. Konten yang dibagikan biasanya berupa artikel, opini, panduan, atau cerita pengalaman, dan bisa berfokus pada berbagai macam topik mulai dari lifestyle, traveling, teknologi, hingga kuliner. Bagi seorang blogger profesional, aktivitas ini bukan sekadar hobi, melainkan pekerjaan utama yang menjadi sumber penghasilan.
Sebagai seorang penulis, tentu era blogger itu memberikan warna tersendiri. Saya sudah terbiasa menulis. Jadi, untuk menuangkan pemikiran, pengalaman, liputan-liputan, tidak begitu kesulitan. Sementara itu, orang-orang yang “Non Penulis” pun ramai-ramai menjadi blogger (menulis blog). Sampai era blog meredup. Berganti menjadi era media sosial. Hadir Facebook, Instagram, Twitter, Tiktok, Youtube. Orang-orang menyesuaikan, ramai-ramai menjadi “Content Creator”, berbasis tayangan video.
Saya sendiri juga mengikutinya. Saya kemudian memilih menjadi seorang “Podcaster”. Beberapa tahun menjadi Host “Podcast Depok”. Saya menikmatinya. Dan saya juga terus menjajal peluang host pada podcast-podcast lain. Dunia podcast kini menjadi marak betul. Orang-orang, terutama tokoh publik ramai-ramai bikin podcast sendiri. Sampai saya menulis kolom ini, dunia podcast masih cukup ramai. Saya juga ada dalam ekosistem ini. Tapi, saya punya prediksi dunia podcast kelak bakal meredup juga.
Maka, saya tak meninggalkan dunia yang sudah saya tekuni sejauh ini. Tak lain tak bukan dunia kepenulisan. Penulis: seperti judul di atas, saya percaya sebuah profesi sepanjang hayat. Ia tidak akan punah. Tetap bisa dijalankan, dikerjakan sepanjang zaman. Bahkan sampai kita tua renta sekalipun. Semakin tua, semakin matang.
Memang, tantangan besarnya, era AI merajalela. Orang kini bisa menulis begitu mudah dengan bantuan AI seperti Chat GPT. Dalam hitungan detik, orang bisa memproduksi tulisan seperti yang diinginkan. Tapi kelak, orang tetap akan melihat siapa penulisnya. Mereka yang terus konsisten menulis, menuangkan pikiran dan pengalamannya. Apalagi, mereka yang secara spesifik menekuni bidang tertentu, merekalah yang kemudian bakal dipercaya, bukan mereka yang mendadak bisa menulis dengan bantuan Chat GPT.
Tantangan berikutnya adalah “Wadah”. Kini, koran-koran cetak bertumbangan. Artinya, kita tidak bisa lagi menulis dan mendapatkan honor dari sana, kecuali dari beberapa media saja yang persaingannya begitu ketat. Sementara, media-media itu beralih ke media online, sayang, tak ada honor menulis di media online ini.
Lantas, bagaimana penulis bisa “Hidup Layak”? Tentu, beragam cara dilakukan. Saya sendiri memilih menekuni dunia tulis menulis dalam dua “Bentuk”. Satu “Kolom” dan berikutnya “Biografi”. Saya berusaha menulis kolom setiap hari dalam beragam tema. Hasilnya kemudian saya kumpulkan dalam bentuk buku dan diterbitkan. Sementara, saya terus menulis biografi, autobiografi atau semacam “Novel Biografis”.
Info terbaru era produk digital sepertinya juga sedang “trend”. Saya juga ikut serta meramaikan suasana dengan menjual produk buku digital (Ebook) saya lewat beragam platform. Salah satunya via website Lynkdotid. Selain itu, karena basis keilmuwan saya terkait dengan jurnalisme, ikut serta juga kelola media online erabarudotid. Sebagai media, selain juga untuk menambah penghasilan, juga semacam usaha menjaga dan merawat “passion”.
Kini, saya terus merawat dan menjalani kehidupan sebagai seorang penulis dengan ragam pernak-perniknya. Satu hal yang saya yakini. Ketika suatu profesi dijalankan dengan sepenuh hati, maka, sudah pasti akan memperoleh penghasilan yang menggembirakan. Itu saja, kata-kata motivasional sebagai bentuk keyakinan, atau setidaknya sebagai penghiburan. []
(Yons Achmad. Kolumnis dan penulis biografi. Tinggal di Depok).